Pandangan Tentang Investasi Alutsista

Published by admin on

Selain munculnya istilah “dilan” (digital melayani) yang menjadi trending topic pada Debat Capres tahun lalu, Presiden Jokowi juga mem-viral-kan istilah “investasi alutsista” (alat utama sistem persenjataan). Viral, karena bagi rekan-rekan penulis, kalangan yang menyukai dunia pertahanan, terminologi investasi alutsista adalah sebuah hal yang lama, namun baru.

Mengapa demikian? Bahasa lain dari Investasi di bidang alutsista adalah optimalisasi sektor pertahanan melalui kemandirian industri pertahanan. Sebuah narasi yang sudah lama didengungkan, terutama sejak Reformasi Sektor Keamanan (RSK) muncul pasca dihapusnya Dwi Fungsi ABRI di awal milenium ini.

Bicara viral, saat ini Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dikritik karena sejak menjabat Menhan ia mengunjungi lebih dari 8 negara untuk melakukan diplomasi pertahanan, termasuk mencari alutsista yang tepat bagi Indonesia. Mencari dalam arti tentunya membeli, padahal sesuai visi misi presiden saat debat capres tahun lalu, harusnya kita sudah mulai melakukan investasi alutsista, bukan malah beli jadi.

Investasi memang sangat terkait dengan anggaran pertahanan. Sekedar perbandingan, di tahun anggaran pertama Presiden Jokowi menjabat, yaitu tahun 2015, anggaran pertahanan kita hanya sekitar 96 triliun. Tahun 2019 lalu mencapai 109 triliun, berarti kenaikannya hanya sekitar 5%. Lebih lagi, dari 109 triliun tersebut, sekitar 40% digunakan untuk belanja pegawai dan 30% untuk belanja barang, alias “beli” alutsista, bukan investasi. Sisa kurang lebih 30% baru digunakan untuk belanja modal. Harapan muncul di tahun ini di mana anggaran pertahanan meningkat drastis hingga 131,2 triliun, yang seharusnya menurut penulis paling tidak 20%-nya dialokasikan untuk investasi alutsista melalui kebijakan yang menguntungkan industri pertahanan kita.

Penulis berpendapat, jika Presiden Jokowi memilih untuk tidak bergantung pada paradigma defense purchasing, untuk kemudian beralih menjadi defense investment, maka ia harus meningkatkan anggaran bagi kemandirian industri pertahanan secara signifikan. Sayangnya, tulisan ini tidak akan membantu menjawab bagaimana cara presiden Jokowi dalam termin keduanya ini untuk “bongkar pasang” APBN kita demi meningkatkan anggaran pertahanan. Namun, penulis lebih tertarik untuk membahas apa itu investasi alutsista ala Jokowi, dilihat kacamata penulis soal bagaimana meningkatkan kemandirian industri pertahanan melalui kebijakan pertahanan yang disebut “offset”.

Kebijakan offset Pertahanan

Penulis sepakat bahwa optimalisasi sektor pertahanan Indonesia harus dimulai lewat paradigma “investasi” yang dikatakan Pak Jokowi. Ketergantungan pada pembelian alutsista terus-menerus, sekalipun dengan alasan pemenuhan Minimum Essential Force (MEF), in a long run justru akan menggerogoti anggaran negara. Lihat saja Amerika Serikat, China, dan Rusia yang industri pertahanannya mampu memenuhi kebutuhan pertahanannya sendiri, bahkan menjadi salah satu sumber penerimaan negara karena hasilnya diekspor ke luar negeri.

Kebijakan offset pertahanan merupakan salah satu bagian dari countertrade. Pengertian offset pada dasarnya mengacu pada pembelian atau investasi timbal balik yang disepakati oleh pemasok senjata sebagai imbalan dari kesepakatan yang dilakukan. Sedangkan, pengertian offset dalam Undang-Undang Nomor 16 tahun 2012 Pasal 43 Ayat 6 tentang Industri Pertahanan, adalah pengaturan antara pemerintah dan pemasok senjata dari luar negeri untuk mengembalikan sebagian nilai kontrak kepada negara pembeli, dalam hal ini Indonesia, sebagai salah satu persyaratan jual beli.

Kemudian, mekanisme offset pertahanan adalah sebuah kondisi kapasitas produksi dari negara produsen persenjataan yang berlebih, sehingga pola yang dibangun untuk menjual produksinya adalah adanya Transfer of Technology (ToT) dalam bentuk kerjasama yang saling menguntungkan antara negara atau perusahaan produsen persenjataan dengan negara konsumen persenjataan.

Memang, bicara kemandirian industri pertahanan tidak bisa dilakukan lewat cara offset saja. Akan tetapi, banyak negara di dunia melihat kebijakan offset ini sebagai alat untuk meningkatkan kemampuan negara dalam membangun industri pertahanannya yang kuat dan mandiri. Hal ini termasuk perkembangan teknologi, tenaga kerja, peningkatan keterampilan, pengembangan rantai permintaan dan penawaran, mekanisme subkontrak, dan pemasaran.

Mereka juga menggunakan offset untuk meningkatkan kemampuannya mendesain, mengembangkan, membuat, mengintegrasikan, dan memelihara alat peralatan pertahanan keamanan (alpalhankam). Faktor-faktor lain juga berpengaruh, seperti tersedianya pasar yang kompetitif, dukungan infrastruktur, iklim politik yang stabil, dan insentif ekonomi yang tinggi.

Tindakan ini hanya bisa dilakukan jika negara tersebut memiliki modal, sumber daya manusia, dan bahan-bahan yang cukup untuk diproduksi di dalam negeri, di mana Indonesia memilikinya. Terus meningkatnya anggaran pertahanan dari tahun ke tahun sebenarnya adalah modal yang cukup untuk memulai fokus pada kebijakan-kebijakan yang pro kemandirian industri pertahanan. Persoalan ini harus jadi prioritas presiden ke depan, bukan sekedar politisasi saat ada pemilu.

Offset Langsung dan Tidak Langsung

Offset terbagi menjadi offset langsung dan tidak langsung. Offset langsung terkait erat dengan akuisisi peralatan ataupun jasa pertahanan yang langsung berhubungan dengan traksaksi pembelian sedangkan offset tidak langsung tidak berkaitan langsung dengan produk atau jasa pertahanan. offset tidak langsung sering juga disebut offset komersial, bentuknya biasanya buyback, bantuan pemasaran/pembelian alutsista yang sudah diproduksi oleh negara berkembang tersebut, produksi lisensi, transfer teknologi, sampai pertukaran offset, bahkan imbal beli.

Offset langsung bertujuan untuk mencapai lebih dari economic return yang singkat. Selain itu, offset langsung didorong oleh objektif dari kemandirian strategis di mana dibutuhkan penyokong kemandirian dan kapabilitas untuk meningkatkan alutsista. Oleh karena itu, offset langsung melibatkan industri dari negara pembeli.

Offset langsung bertujuan untuk mencapai lebih dari economic return yang singkat. Selain itu, offset langsung didorong oleh objektif dari kemandirian strategis di mana dibutuhkan penyokong kemandirian dan kapabilitas untuk meningkatkan alutsista. Oleh karena itu, offset langsung melibatkan industri dari negara pembeli.

Offset langsung ini terdiri dari tiga jenis. Pertama, pembelian lisensi produksi (licensed production), di mana pengertiannya adalah penjual persenjataan setuju untuk mentransfer tekhnologi yang dimilikinya kepada negara pembeli, sehingga keseluruhan atau sebagian barang yang dipesannya dapat diproduksi di negara pembeli.

Kedua, produksi bersama (co-production), pengertian dari produksi bersama ini adalah bahwa pembeli dan penjual tidak hanya mengupayakan pengadaan barang-barang militer saja, melainkan juga penjual bersama-sama pembeli berupaya membuat barang-barang dan jasa peralatan militer, dan memasarkannya bersama-sama dengan memperhatikan berbagai kesepakatan dari perjanjian tersebut. Dengan bahasa lain, negara pembeli merupakan mitra dari negara penjual, dan dalam hal ini tidak ada keharusan dari negara penjual untuk melakukan transfer tekhnologi kepada negara penjual.

Ketiga, pengembangan bersama (co-development). Dalam pengembangan bersama, negara produsen peralatan persenjataan dengan negara pembeli berupaya mengembangkan berbagai peralatan pertahanan yang telah diproduksi oleh negara penjual, dengan harapan akan didapat produk yang lebih baik dari produk terdahulu.

Keuntungan dari co-development adalah negara pembeli secara aktif mengadopsi serta menstranfer berbagai tekhnologi persenjataan secara langsung maupun tidak langsung, sehingga secara bertahap peningkatan kemampuan SDM di negara pembeli dapat terukur dengan baik.

Offset tidak langsung diartikan sebagai barang dan jasa yang tidak secara langsung terkait dengan pembelian-pembelian produk militer, namun dilekatkan sebagai kesepakatan dalam proses jual beli peralatan militer dan pertahanan. Setidaknya ada empat jenis offset tidak langsung, yaitu Barter, Imbal beli (counter-purchase), Imbal investasi (counter-investment), dan Beli Kembali (buyback).

Create and Develop

Investasi dalam bidang teknologi pertahanan tidaklah murah. Banyak negara-negara yang belum memiliki kekuatan ekonomi mumpuni takut untuk berinvestasi pada sektor ini karena memiliki resiko kegagalan yang cukup tinggi. Dalam kasus ini, offset dapat menghindari kegagalan teknologi dalam sebuah produk pertahanan karena sebuah negara tidak perlu melakukan penelitian dan pengembangan dari nol. Selain itu, offset juga dapat membuka lapangan pekerjaan di bidang manufaktur dan perakitan, sehingga investasi yang diberikan negara tidak gagal di tengah jalan.

Offset pastinya juga dapat meminimalisir impor dari negara lain, sehingga pembelian alutsista dapat dikurangi. Untuk itu, pelaksanaan offset harus terstruktur dan mempunyai arah dan fokus yang jelas dalam bentuk program nasional. Pemangku kebijakan harus berperspektif jangka panjang melalui cara berpikir “create and develop”, tidak lagi “buy”.

Melalui offset, industri pertahanan dalam negeri akan mandiri karena mampu mengembangkan dan memproduksi sendiri alutsista kita sehingga di masa depan tidak perlu lagi membeli alutsista dari luar negeri. Offset juga dinilai dapat memberikan peluang bisnis yang lebih baik di masa depan karena industri pertahanan melibatkan perputaran uang yang tidak sedikit.

Keberhasilannya kebijakan ini akan berdampak besar pada anggaran negara secara holistis. Dengan demikian, mandirinya industri pertahanan dalam negeri akan menjadi pilihan yang tepat untuk mensubstitusi pengadaan alutsista yang selama ini diakukan dengan cara pembelian.

Penulis: Jerry Indrawan – Direktur Pusat Studi Kemanusiaan dan Pembangunan

tulisan ini dimuat dalam website https://jakartagreater.com/investasi-alutsista-dan-kemandirian-industri-pertahanan-kita/


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

google-site-verification=8N5TxWSBBIhu3nYT0oYVHkVyJSPdKuOpQNM5nHBjYg4