Manuver Inggris: Dari Brexit ke Laut Cina Selatan

Published by admin on

Oleh: Dama Rifki Adhipramana, peneliti Departemen Politik Internasional Pusat Studi Kemanusiaan dan Pembangunan

Usai keluar dari Uni Eropa, Inggris tampak ingin memperkuat perannya di panggung internasional melalui pengerahan kapal induk HMS Queen Elizabeth ke perairan Indo-Pasifik. Kapal induk HMS Queen Elizabeth adalah kapal terbesar dan paling kuat yang pernah dibangun untuk Angkatan Laut Kerajaan Inggris serta mampu membawa maksimal 72 pesawat tempur yang siap dikerahkan untuk pertempuran. Tindakan yang diambil oleh Inggris ini mendapat kecaman dari Cina sebagai salah satu pihak yang bersengketa dengan negara-negara Asia Tenggara dan Amerika walaupun HMS Queen Elizabeth baru akan berlayar pada 2021. Dengan ambisi Inggris untuk menuju “Global Britain” yang mandiri serta mengutamakan isu keamanan internasional dan isu perdagangan bebas maka Inggris berusaha untuk memainkan peran lebih di panggung dunia internasional serta membuka perjanjian dagang baru dengan negara-negara diluar Uni Eropa.

Posisi Cina sebagai negara berkembang agresif dengan pertumbuhan ekonomi pesat dan militer yang kuat memberi kesempatan bagi Inggris untuk memperkuat kedudukannya pasca Brexit di panggung dunia internasional. Duta Besar Beijing untuk London, Liu Xiao Ming menyatakan bahwa tindakan Inggris untuk mengirimkan kapal induknya ke Indo-Pasifik dapat membahayakan Inggris dan mengancam akan menarik investasi Cina di Inggris yang mengakibatkan hilangnya investasi hingga miliaran poundsterling dari perusahaan-perusahaan Inggris.

Tidak adanya tanda-tanda pembatalan pengerahan HMS Queen Elizabeth dan respon resmi terkait pernyataan dari Duta Besar Beijing menunjukkan keseriusan Inggris dalam menghadapi Cina. Pengerahan HMS Queen Elizabeth ke Indo-Pasifik untuk mendukung Amerika dalam penegakan hukum laut internasional semakin meningkatan ketegangan antara Inggris dan Cina terutama setelah terjadinya polemik Hong Kong dan pemblokiran terhadap teknologi jaringan 5G Huawei di Inggris.

Hubungan Dekat Amerika dan Inggris

Dinamika hubungan antar Amerika dan Inggris telah dimulai sejak 1785 meski sempat terputus pada 1812 dan baru berhubungan secara diplomatik kembali pada 1815. Tidak ada sekutu yang lebih dekat bagi Amerika selain Inggris dan Inggris mengutamakan koordinasi-koordinasi signifikan dengan Amerika terutama dalam penggunaan bahasa, ideologi, dan praktik demokrasi di kedua negara. Sejarah dunia juga mencatat adanya hubungan dekat antara Inggris dan Amerika saat Perang Dunia I, Perang Dunia II, konflik di Korea, Perang Teluk Persia, operasi pembebasan Iraqi dan Afghanistan, dan sebagai pendiri dari Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Pasca keluarnya Inggris dari Uni Eropa, Amerika adalah mitra dagang yang sangat penting bagi Inggris dan menganggap batalnya perjanjian dagang antarnegara akan menjadi kerugian besar bagi Inggris. Tidak mengejutkan bahwa pada akhirnya Inggris akan ikut bergabung dengan Amerika dalam menghadapi Cina yang saat ini sedang menjadi musuh besar bagi Amerika. Terlihat dari keberpihakan Inggris saat menolak Huawei untuk mengembangkan teknologi 5G di Inggris ketika Cina melakukan pembatasan ekspor teknologi untuk Amerika.

Global Britain

Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, kembali melanjutkan prioritas Inggris yang telah ditetapkan oleh Theresa May setelah memisahkan diri dari Uni Eropa. Diantaranya adalah membangun Inggris yang lebih kuat dengan mengatur hukum sendiri terlepas dari campur tangan Uni Eropa, Inggris yang lebih adil dengan memastikan kontrol imigrasi, Inggris yang global melalui perdagangan bebas dengan negara-negara dunia, dan kerjasama untuk melawan kejahatan dan terorisme. Ambisi Inggris untuk menunjukkan kekuatannya di Laut Cina Selatan tidak lepas dari kepentingan nasionalnya untuk memperkuat kembali hubungan dengan negara-negara Uni Eropa terutama usai Brexit seperti Jerman sekaligus menarik dukungan dan perhatian dari Australia, Jepang, dan negara-negara Asia Tenggara yang turut bersengketa di Laut Cina Selatan.

Sebagai negara dengan militer kuat dan menempati urutan 8 dari 138 negara, tidak mengejutkan jika Inggris dapat menggunakan pendekatan militer terhadap tindakan agresif Cina di Laut Cina Selatan mengingat “Global Britain” turut melawan terorisme dan menegakkan hukum keadilan. Terlebih dengan Asia Tenggara dan Indo-Pasifik yang diprediksi akan menjadi kawasan yang sangat strategis untuk pasar dunia pada 2030 serta menjadi rumah bagi 3.5 juta masyarakat kelas menengah akan membantu Inggris dalam meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDP). Perekonomian Inggris terkenal stagnan saat berada di Uni Eropa sehingga kehadiran Inggris dalam membantu negara-negara Asia Tenggara di Laut Cina Selatan berpeluang memperbesar pengaruhnya tidak hanya di Asia Tenggara namun juga di Asia.

Ambisi besar Inggris yaitu “Global Britain” untuk dominasi Inggris di panggung dunia internasional dan kedekatan Inggris dengan Amerika semakin memperjelas alasan dari keberpihakan Inggris kepada Amerika dalam isu Laut Cina Selatan. Pertentangan dari dua negara kuat yang sekaligus menduduki posisi anggota permanen Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNSC) atas tindakan agresif Cina di Laut Cina Selatan sangat mengancam Nine-Dash Line milik Cina.

Laut Cina Selatan yang semakin memanas serta melibatkan banyak negara-negara membuat Inggris menjadikan ini sebagai batu loncatan dalam memperkuat posisi dan dominasinya di panggung dunia internasional. Jika tetap dibiarkan maka tindakan agresif Cina di Laut Cina Selatan dapat mengancam kebebasan navigasi dan menghilangkan keyakinan masyarakat internasional atas penegakan hukum internasional terutama pasca kekalahan Cina di Pengadilan Internasional untuk Hukum Laut (ITLOS). Kesamaan antara Amerika dan Inggris dalam hal penggunaan bahasa, ideologi, dan praktik demokrasi dapat menjadi representasi dari dominasi kekuatan barat melawan kekuatan timur yaitu Cina. Tidak menutup kemungkinan bahwa negara-negara lain akan turut bergabung untuk mendukung Amerika atau Cina dalam upaya penyelesaian isu Laut Cina Selatan.


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

google-site-verification=8N5TxWSBBIhu3nYT0oYVHkVyJSPdKuOpQNM5nHBjYg4