The War Needs to Stop!

Published by admin on

Oleh : Zeezilia Yusuf, peneliti Departemen Politik Internasional Pusat Studi Kemanusiaan dan Pembangunan

Iran dan Amerika merupakan dua negara yang sering “berantem” sejak masa Revolusi Iran pada tahun 1979. Hingga saat ini, Iran serta Amerika tidak bisa menemukan jalan tengah untuk damai. Kedua negara kerap kali saling membalas tindakan dari masing-masing negara, dari secara diplomatik hingga ke serangan militer. Akhir-akhir ini, tensi diantara kedua negara menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan era sebelum Trump memimpin Amerika Serikat.

Kebijakan Amerika kepada Iran, Era Kepemimpinan Trump

Setelah Revolusi Iran, pandangan warga Iran terhadap orang Amerika tidak terlalu bagus. Hal tersebut disebabkan oleh adalah adanya dukungan AS kepada Irak dalan melawan Iran dan Bush yang mengatakan bahwa Iran merupakan negara “jahat” karena mempromosikan teroris (meskipun setelah kejadian 9/11 Iran membantu secara diam-diam dengan melawan Taliban). Kebijakan yang membuat tensi antara kedua negara lebih tinggi dari sebelumnya adalah pada Januari 2020 Jenderal Iran, Qasem Soleimani, dibunuh oleh pihak AS. Pihak Amerika percaya bahwa Soleimani bertanggung jawab atas ratusan kematian warga Amerika dan jenderal Iran sedang membuat rencana untuk menyerang diplomat serta staff duta besa Amerika, tak hanya di Iran tetapi di regional Timur Tengah. Meskipun pada akhirnya, Amerika menyatakan bahwa tindakan yang mereka lakukan adalah kesalahan.

Setiap tindakan yang dilakukan pasti akan terdapat konsekuensi yang muncul. Salah satunya adalah pembalasan Iran atas asasinasi jenderal Iran, Soleimani. Karena kematian beliau, Iran membentuk operasi yang bernama “operation martyr Soleimani”. Pada operasi ini Iran menluncurkan 12-15 misil ke daerah militer Amerika di Irak. Selain itu, Iran juga mengancam daerah serta warga aliansi Amerika Serikat, seperti Inggris, dan Perancis.

Sebelum masyarakat dipimpin oleh Trump, terlihat bahwa usaha AS adalah untuk berdamai dengan Iran. Seperti pertemuan diplomatik pada tahun 2015, dan kerjasama negara-negara dalam perjanjian kesepakatan nuklir atau JCPOA. Karena Iran yang akhirnya menandatangani perjanjian tersebut, sanksi ekonomi Iran telah dicabut dan kondisi Iran menjadi lebih baik. Tetapi pada awal kepemimpinan Trump, AS mundur dari perjanjian JCPOA dan meningkatkan sanksi Iran menjadi lebih tinggi. Selain itu ia juga membuat kebijakan nasional baru dimana Amerika tidak mengizinkan warga dari “negara teroris” untuk masuk ke dalam Amerika. Negara yang dimaksud adalah Iran, Libia, Somalia, Syria, dan Yaman. Kebijakan ini membuat warga Iran tidak bisa pergi untuk mendapatkan pengobatan dan bertemu dengan keluarga mereka.

“World War III”

Setelah Soleimani dibunuh oleh Amerika, banyak masyarakat dunia yang menyerukan “Perang Dunia III”. Mereka mungkin benar. Hal ini bisa dilihat dari era awal kepemimpinan Trump yang melepas perjanjian nuklir atau perjanjian JCPOA pada tahun 2018. Pengunduran diri Amerika pada perjanjian ini membuat adanya ancaman terhadap nuklir Iran yang bisa saja digunakan untuk melawan musuh politik mereka. Selain itu, sanksi terhadap Iran yang awalnya pelan-pelan diangkat menjadi dikembalikan kembali menjadi sanksi penuh seperti sebelum perjanjian nuklir ditetapkan. Alasan Amerika melakukan hal ini masih tidak jelas tetapi, kejadian ini membuat adanya Iran kesusahan karena sanksi tersebut membuat ekonomi Iran tidak bisa berjalan dengan lancar dan normal. Amerika menyatakan bahwa mereka menunggu untuk berbicara dengan niatan merevisi perjanjian nuklir tersebut. tetapi Iran menyatakan bahwa untuk negosiasi dengan Amerika, salah satu syarat adalah membuat sanksi menjadi lebih berat.

Selama masa kepemimpinan Trump, eskalasi kekerasan yang dilakukan Iran menjadi lebih tinggi. Selama tahun 2019, Iran diduga menyerang kapal-kapal minyak milk aliansi Amerika, seperti kapal milik Norwegia, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Selain itu, Iran juga sering dilihat untuk menguji balistik misil dan roket di laut. Mereka juga mendukung pihak-pihak yang merupakan musuh dari aliansi Amerika, yaitu kelompok Houthis di Yaman. Kejadian yang paling membuat “geger” adalah ketika Iran menyerang pangkalan Amerika di Irak Utara dan membunuh 4 warga Amerika. Selama kejadian-kejadian ini terjadi, Amerika terus meningkatkan sanksi ekonomi kepada Iran, dari pemberhentian dana bantuan hingga memblokade properti milik Iran.

Pada awal tahun 2020, karena Trump memutuskan untuk membunuh Jenderal Iran, Qasem Soleimani, Iran berduka selama beberapa hari dan ingin membalas dendam. Sehingga Iran menyiapkan 3.500 pasukan untuk berjaga-jaga. Pada tanggal 29 Juli 2020, Iran terlihat sedang menguji coba misil di wilayah perairannya. Ketika uji coba, pihak Iran menggunakan kapal “mainan” yang berbentuk seperti kapal militer Amerika Serikat. Kejadian ini dianggap sebagai cemooh Iran kepada Amerika Serikat. 2 pangkalan militer di regional menjadi siaga selama beberapa hari. Pemerintahan AS menganggap bahwa tindakan ini sangatlah ceroboh dan tidak bertanggung jawab. Tetapi bisa dilihat bahwa Iran mulai memprovokasi Amerika Serikat untuk memulai perang.

Dari yang sudah dibahas diatas, konflik internasional bisa saja akan terjadi. Kedua negara nampak terus menerus membalas satu sama lain. Setelah Soleimani dibunuh, warga Iran sangat marah dan berduka selama berhari-hari. Kemudian Iran langsung merencanakan balas dendam. Tetapi beberapa hari kemudian, Iran menembakkan misil dan tidak sengaja menembak pesawat komersial milik Ukraina, dimana mayoritas penumpang merupakan warga Iran, karena pihak Iran mengira bahwa pesawat tersebut merupakan milik lawan. Hal ini membuat warga dunia protes kepada Iran. Tetapi bagaimana jika pesawat tersebut terdiri atas warga Amerika? Bila seperti itu, konflik internasional bisa saja terjadi akibat dendam yang mereka miliki.

Konflik internasional terjadi dengan negara-negara bersama aliansinya, “Perang Dunia III” bisa terjadi antara Amerika dan Iran bersama dengan aliansinya. Dari Amerika, aliansi utama yang ia miliki adalah Inggris, Saudi Arabia, Uni Emirat Arab dan sebagainya. Sedangkan dari Iran, aliansi utama mereka adalah Rusia, Lebanon, Irak dan Syria. Bila kedua negara ini berperang, terdapat kemungkinan bahwa aliansi-aliansi dari kedua negara akan ikut perang ini dan korban jiwa juga akan sampai hingga beratus-ratus jiwa. Tak hanya aliansi, kelompok teroris juga akan menggunakan kesempatan ini untuk membalas dendam karena “the enemy of my enemy is my friend”. Kelompok teroris tidak bekerja sama dengan negara manapun tetapi ketika musuh utama mereka akan berperang dengan pihak lain, kelompok teroris akan membantu pihak lain tersebut, yaitu Iran. Karena Amerika Serikat sering kali beroperasi di Timur Tengah untuk membasmi kelompok teroris tersebut.

Apa yang harus dilakukan akan perang ini berhenti?

Sejarah ada untuk memberi pelajaran bagi seluruh masyarakat di dunia. Untuk kasus ini kita bisa melihat kembali pada alasan Perang Dunia II dimulai, yaitu karena adanya perjanjian Versailles yang sangat merugikan masyarakat Jerman pada waktu itu. Karena Jerman ada dalam ekonomi yang sangat buruk dan merasa telah dipermalukan, Jerman memutuskan untuk berperang. Bisa dilihat pada kasus Iran dengan Amerika juga, jika Amerika terus menerus memberikan sanksi berat, Iran akan jatuh dalam perekonomian yang buruk dan merasa dipermalukan karena sikap atau hukuman yang terus menerus diberikan oleh Amerika. Beberapa “petunjuk” yang sudah menyatakan bahwa Iran dan Amerika sedang dalam kondisi siap perang adalah ketika Iran terus menerus menguji coba senjata pembunuh massal dan sering menyerang properti milik negara lain. Khususnya, pada 29 Juli 2020 kemarin, Iran menguji coba balistik kepada kapal “mainan” dengan model kapal yang sama dengan kapal militer Amerika Serikat.

Hal yang wajib mereka lakukan untuk menghentikan konflik ini adalah melupakan masa lalu. Dari pihak Amerika, mereka tidak bisa melupakan momen ketika Iran menghancurkan harga diri Amerika lewat blokade kedutaan besar dan menyandera warga Amerika. Dari Iran, mereka tidak bisa melupakan dukungan Amerika Serikat terhadap regim Shah yang terkenal selalu menyiksa warganya dan mengkorupsi uang masyarakat.. Dengan adanya senjata pembunuh massal yang dimiliki Iran dan kekuatan militer Amerika, perang diantara kedua negara akan sangat kacau. Tak hanya mereka berdua, tetapi aliansi mereka juga akan ikut serta dalam melawan musuh mereka masing-masing. Korban dari konflik saat ini sudah sangat banyak, apabila perang sungguh akan terjadi, korban dari masyarakat akan menjadi berkali-kali lipat.


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

google-site-verification=8N5TxWSBBIhu3nYT0oYVHkVyJSPdKuOpQNM5nHBjYg4