Separatisme di Papua Bukan Ancaman

Published by admin on

Oleh : Astin Julia Rosa, Peneliti PSKP dan Mahasiswa Ilmu Politik UPN Veteran Jakarta

Posisi Papua yang sudah menjadi bagian dari Indonesia masih banyak mendapat gangguan. Banyak gangguan tersebut dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak terlalu suka Papua bergabung dengan Indonesia, maupun mereka yang ingin memanfaatkan situasi tidak baik di Papua. Hal ini tidak aneh, karena sejak masa Orde Baru memang Papua menjadi daerah yang cukup banyak dilanda kerusuhan dan upaya untuk merdeka, tentunya akibat oknum-oknum ini yang kita identifikasikan sebagai gerakan separatis.

Separatisme di Papua

Gerakan separatis merupakan upaya untuk melepaskan diri dari suatu negara atau merdeka dengan berbagai motif. Salah satu motif yang paling umum adalah kekecewaan terhadap situasi dan perasaan tidak adil. Namun tak jarang juga terdapat motif lain yaitu adanya pihak asing yang menginginkan kawasan tertentu dicaplok. Selain memberikan harapan baru kepada Papua dengan masuknya kembali Papua menjadi bagian integral dari Indonesia, pada saat yang bersamaan juga muncul permasalahan baru bagi Papua dalam konteks yang berbeda, yaitu separatisme.

Persoalan separatisme atas Papua diawali dengan adanya kesenjangan cara pandang terhadap sejarah Papua. Kelompok-kelompok di Papua yang condong ke Belanda berusaha menolak masuknya Papua ke Indonesia dengan mengangkat isu separatisme. Padahal, banyak orang Papua, seperti Silas Papare, Frans Kaisepo, Johanes Dimara, Marthen Indey, dll berjuang bersama tokoh-tokoh kemerdekaan Indonesia untuk melepaskan diri dari jajahan kolonial Belanda.

Rasa persatuan untuk menjadi bagian dari Indonesia hadir dalam semangat mereka untuk melawan penjajahan Belanda dan, serta mereka juga berkeinginan untuk bersama menjadi bangsa yang utuh dan berkembang bersama Indonesia. Karena itu, kemenangan Indonesia yang dilegalkan dan diakui komunitas internasional dalam Perjanjian New York 1962 sudah tidak bisa diragukan lagi, apalagi ditawar. Rakyat Papua telah membuktikan bahwa mereka ingin menjadi bagian dari Indonesia, negaranya, dan bangsanya sejak Perjanjian New York tersebut. Apalagi sejak Penentuan Pendapat Rakyat 1969 yang diakui dalam resolusi PBB, mayoritas orang Papua ingin menjadi bagian dari NKRI. Jadi, aturan-aturan hukum tersebut adalah dasar bahwa Papua merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Indonesia.

Namun, sejak itu pula gerakan separatis telah ada sejak saat itu di Bumi Cenderawasih. Banyak argumen untuk memetakan alasan dari munculnya separatisme di Papua. Pertama, gerakan ini adalah pecahan dari minoritas di Papua yang tidak menerima hasil Perjanjian New York dan Pepera, dan tersebar di banyak negara. Kedua, beberapa kelompok dan individu sisa-sisa penjajahan Belanda yang masih menyuarakan kemerdekaan Papua. Gerakan ini berlanjut bahkan setelah berbagai program pembangunan, baik fisik maupun sumber daya manusia, yang telah dilaksanakan di Papua pada masa Orde Baru.

Kemudian, isu provokasi sengaja diangkat di luar Papua, seperti di negara tetangga Australia, kemudian Belanda, Inggris, dan negara-negara kecil di Pasifik Selatan, salah satunya melalui Melanesian Spearhead Groups (MSG). Salah satu gerakan separatisme yang terkenal adalah gerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang didirikan pada 1 Desember 1963, diprakarsai oleh Aser Demotekay di Jayapura. OPM ini selalu mengganggu dan menggagalkan upaya pembangunan di Papua, kebanyakan dengan kekerasan. Tujuan OPM ini adalah untuk menentang dan menghentikan kehadiran dan kedaulatan Indonesia di Papua, serta berusaha mendirikan negara Papua merdeka.

Separatisme Kehilangan Arah

Untungnya, gerakan separatisme di Papua seringkali merupakan gerakan bersenjata yang sporadis dan tidak terkoordinasi dengan baik. Dalam beberapa tahun terakhir, gerakan kemerdekaan Papua ini juga telah berkembang dan merambah kampanye internasional sebagai media melancarkan aksinya. Hal ini karena gerakan bersenjata dianggap tidak efektif lagi dalam mewujudkan visi yang diinginkan.

Oleh karena itu, mereka melakukan kampanye internasional yang aktif dan mengangkat isu-isu sensitif tentang Papua kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan juga ke berbagai negara. Sekalipun upaya marak dilakukan, namun tidak ada satu pun negara di dunia yang mengakui bahwa Papua adalah negara. Memang banyak negara mendukung kemerdekaaan Papua, namun semuanya masih mengakui Papua sampai saat ini adalah bagian dari negara Indonesia.

Fakta ini adalah bukti bahwa gerakan separatisme telah kehilangan arah. Ketika dulu mereka gagal dalam berjuang di Papua melalui upaya kekerasan, teror, dan sebagainya, kali ini mereka juga gagal mempengaruhi dunia internasional untuk mengakui mereka sebagai negara. Mendukung kemerdekaan adalah hal yang sangat berbeda dengan mengakui kedaulatan Papua sebagai sebuah negara. Berjuang di front internasional memang bisa memenangkan opini publik internasional. Namun, dalam konteks kedaulatan sebuah negara, opini publik tidak bisa dijadikan ukuran. Paramater utamanya adalah hukum internasional yang diakui oleh komunitas internasional, termasuk PBB

Bagi Indonesia, Papua merupakan wujud kongkrit nasionalisme bangsa. Oleh karena itu, Indonesia selalu menolak upaya internasional untuk menengahi masalah Papua dari berbagai sarana dialog pihak ketiga yang dimediasi secara internasional. Indonesia adalah Papua dan Papua adalah Indonesia telah menjadi perwujudan semboyan nasionalis bangsa. Meskipun masih ada sebagian kecil masyarakat Papua yang tetap menginginkan internasionalisasi Papua, namun jumlahnya sedikit dan sudah semakin kehilangan arah.

Pemerintah dan masyarakat Indonesia akan senantiasa melindungi Papua dari segala bentuk intervensi asing yang berusaha memprovokasi internasionalisasi Papua. Upaya preventif pemerintah Indonesia untuk membatasi jurnalis asing, diplomat, dan lembaga swadaya masyarakat yang ingin memperburuk masalah Papua merupakan kewenangan sebuah bangsa yang berdaulat. Apalagi, sekarang gerakan separatisme semakin kehilangan tujuannya karena tidak berhasil menyakinkan masyarakat internasional tentang landasan perjuangannya. Saat ini, mari kita sama-sama membangun Papua untuk Indonesia yang lebih baik, terlebih sejak gerakan separatisme ini bukan lagi menjadi ancaman.

 

Artikel ini telah dimuat di :

Separatisme di Papua Bukan Ancaman


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

google-site-verification=8N5TxWSBBIhu3nYT0oYVHkVyJSPdKuOpQNM5nHBjYg4