Penanganan Covid-19 Jawa Timur: Situasi dan Tantangan Terkini

Published by admin on

Kondisi Covid-19 di Jawa timur menjadi perhatian tersendiri. Hal ini karena Jawa Timur menggantikan posisi DKI Jakarta sebagai daerah kasus terbanyak covid-19. Per 9 juli kemarin, kasus di Jawa Timur terus meningkat. Oleh karena itu, Pusat Studi Kemanusiaan dan Pembangunan (PSKP) menggelar webinar series #6 yang membahas dinamika situasi dan tantangan terkini penanganan Covid-19 di Jawa Timur. Webinar ini mendatangkan Laura Navika Yamani, S.Si., M.Si., Ph.D, ahli epidemiologi fakultas kesehatan masyarakat Universitas Airlangga (UNAIR). Hadir juga Khusnul Khotimah, S.Pd.I., M.Pd.I, ketua komisi D DPRD kota Surabaya. Dokter spesialis paru RSUD Saiful Anwar Malang, dr. Rezki Tantular, Sp.P juga hadir di webinar ini. Diskusi ini di moderatori oleh Bayu Widiyanto, manajer program ekonomi dan pembangunan PSKP.

Surabaya menjadi daerah zona merah terbanyak kasus nasional. Menurut data yang dipaparkan oleh pakar epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Laura Navika Yamani, Surabaya melebihi rata-rata case attack rate Nasional. “ Attack rate Surabaya paling tinggi secara nasional, yaitu 219 per 100.000, dibandingkan dengan Jawa Timur yang sebesar 38,67 per 100.000, dan Indonesia sebesar 26,24 per 100.000,” tukas Laura.

 

Meskipun secara nasional Surabaya paling tinggi, namun ada tren positif yang diungkapkan oleh Ketua Komisi D DPRD kota Surabaya, Khusnul Khotimah. “Tingkat kesadaran masyarakat kita sudah mulai tumbuh dan lebih baik seiring berjalannya waktu. Semuanya juga sudah menyadari bahaya virus ini, sehingga memberikan perhaitan yang serius dan semuanya berhati-hati,” tutur Khusnul.

Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa Surabaya diberikan waktu dua minggu untuk menghijau, meskipun saat ini telah melampaui deadline. Namun, terlepas dari itu, Kota Surabaya akan terus melakukan tracing. “Intinya adalah Surabaya melakukan tracing, berharap selain memutus mata rantai, juga menumbuhkan kesadaran. Surabaya sekarang sudah menghijau di bebebrapa titik di kecamatan. Artinya tingkat partisipasi masyarkaat dan protokol kesehatan tinggi,” jelas ketua komisi D DPRD ini.

Pelonggaran PSBB di Surabaya juga belum memenuhi rekomendasi dari standar WHO. Standar WHO mengungkapkan bahwa untuk membuka New Normal, kasus positifnya berada pada rentang 3%-12%. Akan tetapi, ada pertimbangan lain yang membuat Surabaya melonggarkan PSBB. “Setelah perpanjangan yang ketiga, ketika sudah mendengarkan alasan-alasan Pemkab, itu ada sektor lain yang lebih menjadi pertimbangan, walaupun secara epidemiologis belum aman. Tetapi, pemda memutuskan ada dampak yang lebih parah. Namun, isu ini tidak hanya di Jawa Timur melainkan nasional. Masyarakat kita banyak bekerja di sektor informal. Dengan penerapan PSBB, maka ada dampak ke perekonomian bagi masyarakat pada sektor informal”, jelas Laura.

Sementara di kota Malang, dokter spesialis paru RSUD Saiful Anwar Malang, Rezki Tantular mengatakan bahwa pihak rumah sakit meningkatkan kapasitas tempat tidur isolasinya. “Awal covid-19, di Saiful Anwar punya 39 bed isolasi. lalu kemudian menjadi 91 bed isolasi. Kenapa ditambah, itu karena 39 bed penuh karena rujukan dari rumah sakit lain. Saiful anwar merupakan rumah sakit rujukan utama” jelas Rezki.

Rumah sakit rujukan utama sendiri menangani kasus covid-19 berat. Rumah Sakit Saiful Anwar telah menangani banyak pasien covid-19. “10 Maret sampai dengan 9 Juli, Saiful anwar menangani 160 kasus utama. Kasus-kasus yang berat baru dirujuk ke Saiful anwar. Kasus berat itu hanya 14% ke atas,” tutur Rezki. Dia juga menambahkan, bahwa dari kasus-kasus yang ditangani di rumah sakit, 41% berasal dari kabupaten Malang, sedangkan 20% berasal dari kota Malang.

Mengenai terapi yang digunakan rumah sakit Saiful Anwar, Rezki mengatakan bahwa metode terapi spesifik untuk covid-19 ini belum ada, “yang paling penting belum ada terkait terapi yang spesifik untuk SARS CoV2. Sampai saat ini pun di dunia, tidak ada terapi yang spesifik. Terapi-terapi yang digunakan bersifat trial dengan berbagai macam keunggulan dan kekurangan,” tutur Rezki.

Oleh karena itu, masyarakat memiliki peran penting untuk mencegah rantai penularan Covid-19 ini. Dalam penanganan covid-19, ada beberapa level penanganannya, yakni level primer, sekunder, dan tersier. Selain itu, menurut Laura, Indonesia tidak bisa menjalankan kehidupan New Normal tanpa pengendalian kasus.“Harus dipantau dari kriteria epidemiologis yang dipasang WHO,” jelas ahli epidemiologi UNAIR ini.

Tulisan ini telah dimuat di:

  1. https://dayaknews.com/kesehatan/2020/07/10/42231/penanganan-covid-jawa-timur-situasi-dan-tantangan-terkini/
  2. https://joernalinakor.com/penanganan-covid-jawa-timur-situasi-dan-tantangan-terkini/

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

google-site-verification=8N5TxWSBBIhu3nYT0oYVHkVyJSPdKuOpQNM5nHBjYg4