Serupa Tapi Tak Sama, Potret Italia dan Prancis pada Masa Pandemi

Published by admin on

COVID – 19 merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus korona yang baru ditemukan, keberadaan COVID-19 telah tercatat sebagai pandemi atau wabah penyakit global. Dikarrnakan cakupan virus ini telah mencapai berbagai penjuru dunia, kebijakan tiap – tiap negara dikerahkan dalam mengurangi penyebaran COVID – 19.  Prancis dan Italia merupakan negara dengan destinasi teratas berdasarkan Pacific World Global Destination Index ( dalam regional Eropa, Timur Tengah, dan Afrika). Italia, melalui perintah langsung dari Perdana Menteri Giuseppe Conte menyatakan tindakan perjalanan apapun harus disertakan formulir yang menyatakan adanya hal yang sangat mendesak meliputi hal-hal sebagai berikut yakni, urusan pekerjaan, kesehatan, maupun transportasi untuk kembali ke tempat asal juga menyampaikan sikap disiplin terkait penyebaran informasi palsu atau hoax yang akan ditindaklanjuti setara dengan tindakan kriminal.

Merujuk pada kebijakan terhadap penutupan situs – situs yang memiliki intensitas tinggi dalam sektor pariwisata (Colosseum, Pompei dan the Uffizi Galleries)serta situs – situs bersejarah lainnya. Hal ini dilakukan secara serentak dengan ditetapkan hingga 3 April 2020 sekaligus memperpanjang kebijakan national lockdown hingga 3 April 2020. Adanya national lockdown telah ditetapkan sejak 9 Maret 2020, sebagai respon dari meningkatnya 475 kasus kematian baru. Pemberlakuan national lockdown dikerahkan dengan bantuan  kepolisian dengan memeriksa pergerakan sekitar satu juta orang dalam lebih dari seminggu, menurut angka dari data pemerintah. Serta memberlakukan adanya penetapan denda dan ancaman penjara sampai tiga bulan. Sejumlah kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah Italia memiliki hal serupa yang dikerahkan oleh pemerintah Prancis. Dilansir dari laman Politico bahwa kasus pertama di Uni Eropa didiagnosis di Prancis pada 24 Januari 2020. Jumlah kasus tetap dalam kondisi dibawah kontrol sampai sekitar satu bulan kemudian, menyebar di utara Italia.

Prancis telah menangguhkan kebijakan perjalanan yang mana dalam  bahwa angkutan umum tidak akan ditutup, dikarenakan hal ini akan menghambat tenaga medis profesional dalam menangani pasien, tetapi Air France telah menangguhkan penerbangan ke dan dari Italia antara 14 Maret dan 3 April. Terdapat kebijakan dalam menutup tempat tourism attraction (Louvre dan Menara Eiffel ) ditutup untuk umum hingga pemberitahuan lebih lanjut, dan tempat-tempat seperti Disneyland Paris ditutup hingga setidaknya akhir Maret. Pemberlakukan diperuntukkan dalam mengurangi intensitas bertambahnya penularan COVID – 19 yang meningkat (22 Maret 2020 tercatat kasus berjumlah 1.745 dan di tanggal 23 Maret 2020 kasus bertambah hingga 3.947). Pelanggaran pada kebijakan lockdown  mendapat denda yang awalnya hanya 35 euro meningkat menjadi 135 euro, hal ini sebagai respon masih banyaknya masyarakat di Prancis yang tidak menaati kebijakan tersebut, bahkan jika adanya denda belum signifikan mengurangi jumlah yang melanggar makan akan dinaikkan menjadi 375 euro.

Melihat kebijakan yang dikerahkan sebagai respon adanya COVID – 19 di Prancis dan Italia tergolong serupa, tidak hanya dilihat dari adanya kebijakan sebagai variable dalam menerapkan Most Similarity System pada esai penulis, namun dilihat dari karakteristik negara yang merupakan negara dengan padat destinasi. Adapun X yakni perbedaan antara Prancis dan Itali terkait sistem layanan kesehatan dimana, pengeluaran kesehatan di Italia, sebesar EUR 2,550 per kapita pada tahun 2015, 10% lebih rendah dari  rata-rata Uni Eropa yakni EUR 2,797 . Tenaga kerja kesehatan (dokter) memiliki jumlah yang seimbang dengan poppulasi yang ada, namun keberadaan perawat memiliki tingkat yang relatif rendah  (6,1 per 1.000 populasi dibandingkan dengan rata-rata Uni Eropa 8,4), maka dari Akibatnya, rasio perawat per dokter hanya sebesar 1,5 dan merupakan tingkat terendah di wilayah Uni Eropa (Rata-rata UE 2,3).

Selain itu terdapat penurunan jumlah tempat tidur kuratif, rehabilitasi, dan perawatan jangka panjang per 1000 populasi hanya sebesar 3,2 julah tersebut juga berada dibawah rata – rata Uni Eropa yakni diangka 5,1. Hal lain yang menjadi alasan cepatnya penyebaran COVID-19 di Italia selain tingkat layanan kesehatan yang belum mencapai rata – rata adalah ageing population tertinggi di antara negara- negara di Uni Eropa, hal ini dapat membuat tingkat kematian yang lebih tinggi sebagai akibat dari populasi lansia di atas rata-rata. Data dari Survei Wawancara Kesehatan Eropa melaporkan itu sekitar 5% orang Italia hidup dengan asma, lebih dari 20% hidup dengan hipertensi, dan sekitar 6,5% menderita diabetes. Keadaan – keadaan diatas menjadi pemicu mengapa pandemi COVID-19 mewabah sangat cepat di Italia. Usia rata-rata pasien meninggal karena COVID-19 di Italia adalah 81, berdasarkan National Health Institute.

Perancis memiliki sekitar 13.000 perawatan intensif dan jumlah kasur untuk pemulihan sebagai standar di rumah sakit umum juga swasta. Sehingga terdapat penanganan cepat dengan bukti bahwa sekitar 80% orang yang tertular virus corona pulih tanpa memerlukan perawatan khusus, sementara 3,4% kasus fatal, persentase tersebut tercatat di WHO lho!.  Dalam sistem layanan kesehatan instrumen keuangan digunakan untuk investasi terhadap peningkatan layanan rumah sakit, sehingga Prancis memiliki pasokan layanan kesehatan yang lebih tinggi.

Nah, disini kita bisa liat dengan Structural Approach dalam melihat perbedaan sistem kesehatan antara Prancis dan Italia, masing – masing memiliki latar belakang mengapa adanya perbedaan. Pengurangan ranjang yang dilakukan di Italia merupakan salah satu cara untuk memperbesar anggaran yang diperuntukkan dalam memfasilitasi banyaknya aging population yang terjadi di Italia, selain itu menurut laporan OECD dan European Observatory on Health System and Policy dalam masalah sistem kesehatan yang menyangkut profesi tenaga medis, Italia masih dalam tahap peningkatan sebagai respon dari adanya kekurangan di tahun – tahun sebelumnya. Italia membangun progres terkait model sistem kesehatan yang dalam manajemen dan pencegahan penyakit kronis yang memang tahapnya lamban. Maka dari itu keadaan sistem layanan kesehatan di Italia yang belum matang mempengaruhi tingginya jumlah kematian yang juga disebabkan oleh banyanknya aging populationBeda kalau Prancis yang mewujudkan kualitas tinggi dalam sistem kesehatan, dimana negara ini mengalokasikan 11,3% dari GDP nya atau sejumlah $5.370 per kapita pada sektor layanan kesehatan. Selain itu pemerintah Prancis bertanggung jawab sepenuhnya atas manajemen keuangan dan operasional asuransi kesehatan. Pemerintah Prancis biasanya mengembalikan 70%  biaya perawatan kesehatan dan 100% biaya kesehatan dalam kasus penyakit yang membutuhkan biaya rawat yang tinggi. Melalui dua perbandingan dalam kesehatan antara Prancis dan Italia dapat menjadi benang merah adanya perbedaan tinggi dalam tingkat kematian yang disebabkan oleh kasus COVID-19 padahal secara jumlah populasi keduanya sama-sama memiliki populasi sejumlah 60 juta keatas.


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

google-site-verification=8N5TxWSBBIhu3nYT0oYVHkVyJSPdKuOpQNM5nHBjYg4