Manajer Program Keamanan PSKP: Implikasi Keamanan di Natanz Sangat Besar

Published by admin on

Jakarta – 

Beberapa hari ini, media memberitakan insiden ledakan yang terjadi di Natanz, pusat kawasan pengembangan nuklir Iran. Iran memang sedang gencar-gencarnya mengembangkan nuklirnya untuk kepentingan energi akibat perjanjian internasional yang telah ditinggalkan oleh AS, dan mereka menerapkan maximum economic pressure. Hal itu memicu Iran untuk mengembangkan nuklir sesuai dengan keinginannya sendiri. Terlebih klaim mereka bahwa nuklir ini bukan digunakan sebagai senjata.

Serangan di Natanz ini menimbulkan berbagai konsekuensi yang berat bagi Iran. Di tengah pandemi dan juga isolasi internasional, hancurnya beberapa fasilitas nuklir Iran membuatnya harus merugi secara finansial. Mereka harus membangun kembali dan tentunya membutuhkan biaya yang besar untuk pengembangan serta peremajaannya. Namun, yang unik dari insiden ini adalah sebab-muasal yang beragam, bahkan cenderung ditutupi oleh pejabat Iran sendiri.

Mengarah ke Israel

Berbagai spekulasi muncul tentang asal muasal serangan tersebut. Ada beberapa pihak yang menyebutkan bahwa hal itu disebabkan oleh bom. Pihak lain mengatakan bahwa itu terjadi karena serangan siber yang menyerang situs nuklir Iran, terlebih pengalaman pahit mereka ketika diserang oleh virus Stuxnet hasil kerja sama AS dan Israel. Namun, spekulasi tentang keterlibatan Israel yang merupakan arch enemy dari Iran berembus kencang.

Israel belum mengkonfirmasi secara resmi tentang tuduhan itu. Tetapi, ada dua pernyataan yang berlawanan antara Menteri Pertahanan dan Menteri Luar Negeri Israel. Dikutip dari NYTimes, Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz pada saat diwawancarai oleh Kan, penyiar negara bagian mengatakan, “Everyone can suspect us in everything and all the time, but I don’t think that’s correct.

Sedangkan, pernyataan yang cukup berlawanan keluar dari Menteri Luar Negeri Israel Gabi Ashkenazi. Dikutip dari media yang sama, dalam pernyataannya dalam konferensi yang digelar oleh Maariv dan Jerusalem Post, dia mengatakan, “Iran cannot be allowed to have nuclear capabilities. We take actions that are better left unsaid.”

Dua pernyataan itu menimbulkan perdebatan, apakah Israel terlibat atau ini hanya gimmick Israel semata. Menteri Pertahanan terdengar menolak klaim keterlibatan Israel, namun pernyataan Menlu tendensius mengarah kepada kecurigaan bahwa Israel adalah aktor di balik serangan itu. Tetapi, satu hal yang pasti antara Israel dan Iran adalah mereka berdua sudah bersitegang sejak lama.

Ketegangan antara kedua pihak memang tidak terelakkan. Kedua negara itu telah bermusuhan sejak lama. Selain dibedakan antara corak agama, secara keamanan Israel memang merasa terancam oleh keberadaan Iran dan pengaruhnya yang semakin kuat di Timur Tengah. Media Kuwait Al-Jareeda mengklaim bahwa Israel bertanggung jawab atas ledakan di Natanz. Memang, kalau bicara siapa yang diuntungkan oleh insiden itu, semua mata akan tertuju pada Israel. Dan, ini didukung oleh dua argumen.

Pertama, ketika virus stuxnet menyerang situs nuklir Iran pada 2010, Israel terlibat di dalamnya. Apabila memang ini terjadi karena serangan siber dari luar, bukan tidak mungkin Israel menjadi akar penyebabnya. Meskipun ada spekulasi yang muncul bahwa serangan siber ini disebabkan oleh sekelompok hacker yang bernama Homeland Cheetahs, namun pertanyaan yang perlu dijawab adalah jika situs diserang oleh kelompok hacker dalam negeri, mengapa mereka menyerangnya secara terbuka dengan mengirimkan email? Hal itu akan memudahkan pelacakan sumber serangan. Namun, identifikasi serangan siber tidak semudah itu.

Berbicara dari segi ancaman, nuklir yang dimiliki Iran merupakan ancaman yang nyata bagi Israel, sehingga mereka harus selalu waspada akan gerak-gerik Iran. Israel saat ini adalah satu-satunya negara di Timur Tengah yang memiliki nuklir. Jika Iran mengembangkan nuklirnya lebih lanjut, tentu keseimbangan kekuatan juga akan berubah.

Hancurnya beberapa fasilitas Nuklir di Iran membawa keuntungan tersendiri bagi Israel yang membuat Iran harus mengalami kerugian. Menurut juru bicara agensi energi atom Iran, insiden tersebut mengakibatkan terhambatnya pengembangan advanced sentrifuges dalam termin medium. Dampak dari insiden itu tentu akan cukup memuaskan Israel.

Implikasi Keamanan

Akumulasi kerusakan yang terjadi di Natanz sebenarnya masih belum jelas. Pemerintah Iran masih menutup-nutupi penyebabnya, sehingga memunculkan beragam opini dan spekulasi terkait dampak yang ditimbulkan. Analis militer Channel 13 TV Israel Alon Ben-David mengatakan bahwa serangan itu merusak fasilitas pengembangan sentrifugal yang lebih maju untuk kepentingan uranium yang diperkaya dalam tingkatan yang jauh lebih cepat. Namun, pernyataan itu masih bisa diperdebatkan, terlebih dengan Iran yang berupaya “menutupi” penyebab dan kerusakan riilnya.

Tetapi, insiden Natanz tersebut tentunya memiliki dampak yang begitu besar bagi Iran. Meskipun pejabat keamanan Iran mengklaim bahwa kerusakannya terbatas, namun hal itu tidak menutup kemungkinan bahwa insiden tersebut adalah pukulan telak bagi Iran. Mereka yang sedang berada pada tekanan internasional tentu akan berputar otak untuk mencari cara bagaimana meminimalisasi kerugian akibat insiden yang terjadi di Natanz. Pengembangan nuklir menjadi harga mati bagi Iran.

Insiden itu menunjukkan bahwa fasilitas nuklir Iran sangat mudah untuk diserang, mulai dari siber hingga ledakan –jika memang itu penyebabnya. Hal itu mengindikasikan rapuhnya keamanan nasional Iran, sehingga mudah disusupi oleh aktor lain. Rapuhnya keamanan nasional Iran menunjukkan sistem keamanan dan pertahanan yang tidak kuat. Insiden tersebut seakan memperlihatkan kepada dunia lemahnya sistem keamanan nuklir negara Iran.

Di sisi lain pula, serangan itu menunjukkan bahwa keamanan nuklir harus menjadi perhatian khusus, terutama kepada pemilik nuklir. Dampak serangan nuklir tersebut sangat besar bagi masyarakat secara luas. Secara resmi, Iran mengeluarkan pernyataan bahwa terjadi “kecelakaan” di fasilitas nuklir, namun tidak ada polusi radioaktif dan korban jiwa. Jika berasumsi bahwa apa yang dikatakan pejabat Iran itu benar, maka bisa dikatakan masyarakat di sekitarnya beruntung bahwa mereka tidak terkena dampaknya.

Namun, tentunya ini menjadi pemahaman bagi semua bahwa mengembangkan nuklir perlu diimbangi oleh penguatan keamanan yang mumpuni. Nuklir tidak hanya punya keuntungan dalam sisi energi maupun persenjataan, namun juga risiko yang besar seperti polusi radioaktif. Tragedi Fukushima dan Chernobyl memberikan pelajaran bagi negara untuk meningkatkan keamanan di situs nuklir.

Tulisan ini sebelumnya telah tayang di: http://news.detik.com/kolom/d-5086544/implikasi-keamanan-insiden-kompleks-nuklir-iran#main


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

google-site-verification=8N5TxWSBBIhu3nYT0oYVHkVyJSPdKuOpQNM5nHBjYg4